Mobil Listrik Akan Pakai Baterai Sodium-Ion? CATL Mulai Uji Coba Nyata!

Mobil Listrik Akan Pakai Baterai Sodium-Ion? CATL Mulai Uji Coba Nyata!

Mobil Listrik Akan Pakai Baterai Sodium-Ion? CATL Mulai Uji Coba Nyata!

Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), raksasa baterai asal Tiongkok, kini memasuki babak baru dalam evolusi kendaraan listrik (EV). Setelah sukses menguji baterai sodium-ion pada kendaraan komersial, perusahaan tersebut resmi memulai pengujian di kendaraan penumpang, menandai tonggak penting dalam adopsi teknologi alternatif pengganti lithium-ion.


Dengan merek dagang Naxtra, baterai sodium-ion CATL kini sedang menjalani pengujian musim dingin di dunia nyata, dengan model Changan Oshan sebagai salah satu pionir. Mobil-mobil dari GAC dan JAC juga dipastikan akan menyusul dalam waktu dekat. Langkah ini bukan sekadar eksperimen melainkan bagian dari strategi besar untuk menjawab tiga tantangan utama industri EV: keamanan, kinerja ekstrem, dan ketergantungan pada bahan langka.


Artikel ini mengupas tuntas spesifikasi teknis, keunggulan keselamatan, performa di cuaca ekstrem, serta implikasi global dari terobosan CATL yang berpotensi mengubah wajah mobilitas listrik.


Mengapa Sodium-Ion? Jawaban atas Keterbatasan Lithium-Ion

Selama lebih dari satu dekade, baterai lithium-ion mendominasi industri EV. Namun, teknologi ini memiliki kelemahan struktural:

  • Rentan terbakar atau meledak saat rusak atau terlalu panas
  • Performa menurun drastis di suhu rendah
  • Bergantung pada lithium, kobalt, dan nikel bahan langka dan geopolitik sensitif


Sodium-ion hadir sebagai solusi menarik karena:

  • Sodium melimpah di alam (ditemukan di garam laut) → biaya lebih rendah
  • Lebih stabil secara kimia → risiko termal jauh lebih kecil
  • Kinerja lebih baik di suhu dingin
  • CATL memanfaatkan semua keunggulan ini dalam desain Naxtra dan hasilnya mengejutkan.
  • Spesifikasi Teknis Naxtra: Lebih dari Sekadar “Alternatif”


Meski menggunakan bahan yang lebih murah, baterai sodium-ion CATL tidak berkompromi pada performa. Berikut spesifikasi utamanya:

  • Kepadatan energi: 175 Wh/kg   kompetitif dengan baterai LFP (lithium iron phosphate)
  • Jangkauan listrik murni: >500 km
  • Jangkauan hybrid: >200 km
  • Pengisian super cepat: dukungan 5C (0–80% dalam ~15 menit di kondisi ideal)
  • Daya tahan siklus: hingga 10.000 siklus pengisian   setara 20–30 tahun penggunaan harian


Angka-angka ini menunjukkan bahwa sodium-ion bukan lagi "plan B", melainkan pesaing serius yang siap bersaing di pasar massal.


Keamanan Ekstrem: Tidak Terbakar Bahkan Saat Dibor atau Digergaji

CATL menempatkan keselamatan sebagai poin utama pemasaran Naxtra. Dalam pengujian internal dan independen, baterai ini berhasil melewati tes kekerasan ekstrem tanpa insiden:

  • Penetrasi jarum (needle penetration)
  • Penetrasi bor listrik
  • Tekanan ekstrem (extrusion)
  • Pemotongan dengan gergaji


Dalam semua skenario, tidak terjadi kebakaran, ledakan, atau pelepasan gas beracun. Ini kontras tajam dengan baterai lithium-ion konvensional, yang sering kali mengalami thermal runaway (reaksi berantai panas) saat rusak.


Pada September 2024, Naxtra juga lulus sertifikasi standar nasional Tiongkok terbaru, yang mencakup persyaratan ketat untuk:

  • Difusi panas
  • Ketahanan benturan bawah kendaraan
  • Daya tahan pengisian cepat berulang


Pengujian independen oleh China Automotive Technology and Research Center (CATARC) memverifikasi klaim CATL baik di tingkat sel maupun paket baterai.


Performa di Musim Dingin: Jawaban untuk Masalah EV di Iklim Ekstrem

Salah satu alasan utama pengujian musim dingin dilakukan adalah keunggulan sodium-ion di suhu rendah.


Dalam pengujian di –30°C, CATL melaporkan:

  • Pengisian 30% → 80% hanya dalam 30 menit
  • 93% kapasitas tetap tersedia
  • Kendaraan mampu melaju 120 km/jam meski hanya tersisa 10% baterai


Sebagai perbandingan, baterai lithium-ion biasa bisa kehilangan 30–50% kapasitas di suhu serupa, dan pengisian cepat sering dinonaktifkan demi keselamatan.


Fitur ini menjadikan Naxtra ideal untuk pasar Eropa Utara, Kanada, Rusia, dan wilayah pegunungan Asia tempat EV tradisional kerap gagal memenuhi ekspektasi pengguna.


Implikasi Global: Mengurangi Ketergantungan pada Lithium

Dengan cadangan lithium yang terkonsentrasi di segelintir negara (Chile, Australia, Tiongkok), rantai pasok global rentan terhadap gangguan geopolitik dan fluktuasi harga.


Sodium, sebaliknya, tersedia di hampir setiap negara melalui air laut atau deposit mineral. Ini membuka peluang bagi:

  • Biaya produksi baterai lebih stabil
  • Manufaktur lokal di Eropa, AS, dan Asia Tenggara
  • EV yang lebih terjangkau untuk pasar berkembang
  • Menurut analis industri, adopsi luas sodium-ion bisa menurunkan harga baterai EV hingga 20–30% dalam lima tahun ke depan.


Langkah Selanjutnya: Dari Uji Coba ke Produksi Massal

Uji coba di Changan Oshan, GAC, dan JAC adalah tahap validasi akhir sebelum peluncuran komersial. Jika hasilnya positif, CATL berencana memproduksi Naxtra secara massal pada 2026, dengan target awal di segmen:

  • Mobil perkotaan jarak menengah
  • Kendaraan fleet (taksi, logistik)
  • EV entry-level untuk pasar global


Perusahaan juga menjajaki kemitraan dengan produsen Eropa dan Korea Selatan yang ingin diversifikasi pasokan baterai.


Kesimpulan: Sodium-Ion Bukan Lagi Fiksi Ini Masa Depan yang Nyata

CATL tidak hanya menguji baterai ia sedang membangun fondasi baru untuk industri EV. Dengan kombinasi keamanan mutlak, performa ekstrem, biaya rendah, dan keberlanjutan, teknologi sodium-ion seperti Naxtra berpotensi menjadi standar baru dalam dekade mendatang.


Bagi konsumen, ini berarti mobil listrik yang lebih aman, lebih andal di musim dingin, dan lebih terjangkau. Bagi planet ini, ini berarti mobilitas yang lebih hijau tanpa eksploitasi tambang litium.


Satu hal pasti: era dominasi lithium-ion mulai bergeser. Dan CATL, sekali lagi, berada di garis depan revolusi itu.

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.