Huawei Ikuti Apple, Uji Sensor Kamera Depan Persegi untuk Framing Lebih Cerdas
TEKNOLOGISetelah Apple memperkenalkan sensor kamera depan berbentuk persegi (1:1) pada seri iPhone 17 untuk meningkatkan pengalaman Center Stage, kini Huawei dilaporkan sedang mengevaluasi pendekatan serupa. Jika kabar ini terwujud, perusahaan asal Tiongkok itu bisa menjadi vendor Android pertama yang mengadopsi desain sensor non-konvensional ini dengan tujuan sederhana namun revolusioner: mengatasi masalah framing yang kerap mengganggu pengguna saat selfie, video call, atau merekam konten sosial media.
Menurut bocoran dari akun Weibo populer Digital Chat Station, Huawei tengah mengeksplorasi penggunaan sensor kamera depan berformat 1:1 pada generasi ponsel pintarnya yang akan datang.
Meski terdengar teknis, perubahan ini berpotensi memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi mereka yang sering berganti orientasi layar atau mengandalkan kamera depan untuk komunikasi visual.
Artikel ini mengupas apa itu sensor persegi, mengapa Apple dan kini Huawei tertarik menggunakannya, serta manfaat praktis yang bisa dirasakan pengguna jauh melampaui sekadar spesifikasi teknis.
Apa Itu Sensor Kamera Depan Persegi (1:1)?
Sensor kamera pada kebanyakan smartphone modern berbentuk persegi panjang, biasanya dengan rasio 4:3 atau 16:9 sesuai dengan format layar dan standar fotografi digital. Namun, sensor 1:1 memiliki lebar dan tinggi yang sama, membentuk kotak sempurna.
Pada pandangan pertama, ini terdengar tidak efisien. Tapi justru di situlah letak kecerdasannya:
Sensor persegi menangkap area gambar yang lebih luas secara vertikal dan horizontal sekaligus, memberikan “ruang cadangan” yang bisa digunakan oleh perangkat lunak untuk memotong (crop), memutar, atau menggeser bingkai tanpa kehilangan detail penting.
Mengapa Apple Memulai dengan iPhone 17?
Apple memperkenalkan sensor persegi pada iPhone 17 series sebagai bagian dari peningkatan fitur Center Stage teknologi yang secara otomatis melacak dan memusatkan subjek selama panggilan video, bahkan saat pengguna bergerak.
Dengan sensor 1:1, sistem dapat:
- Berpindah mulus antara orientasi portrait dan landscape tanpa memotong kepala atau latar belakang
- Melacak wajah dengan margin lebih besar, sehingga gerakan alami tidak membuat subjek “keluar frame”
- Menghasilkan rekaman video yang lebih stabil dan estetis, terutama untuk konten TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts
Intinya: hardware baru memungkinkan software lama bekerja jauh lebih baik.
Apa Manfaat Sensor Persegi untuk Pengguna Huawei?
Jika Huawei benar-benar mengadopsi desain ini, pengguna Android khususnya penggemar seri P atau Mate bisa menikmati manfaat serupa:
1. Selfie Grup Tanpa Potongan Kepala
Saat mengambil foto bersama, sensor persegi memastikan semua wajah tetap masuk, bahkan jika ponsel diputar miring atau dipegang terlalu rendah/tinggi.
2. Video Call Lebih Profesional
Fitur pelacakan wajah (face tracking) bisa bekerja lebih akurat, mirip Zoom atau Google Meet premium tanpa perlu tripod atau penyesuaian manual.
3. Konten Sosial Media Lebih Fleksibel
Kreator konten bisa merekam dalam satu orientasi, lalu memotong ulang untuk format berbeda (misalnya dari 9:16 ke 1:1 atau 16:9) tanpa kehilangan resolusi atau detail.
4. Transisi Orientasi yang Mulus
Tidak ada lagi “gambar terpotong” saat beralih dari mode portrait ke landscape selama panggilan video sesuatu yang sering mengganggu di aplikasi seperti WhatsApp atau Teams.
Apakah Ini Hanya Tiruan dari Apple?
Tidak sepenuhnya. Meski Apple mempopulerkan konsep ini di pasar premium, ide sensor persegi sebenarnya sudah lama dieksplorasi di dunia fotografi dan sinematografi. Yang baru adalah penerapannya pada kamera depan smartphone konsumen.
Huawei, yang dikenal agresif dalam inovasi kamera (seperti pada seri P30 Pro dengan zoom periskop), kemungkinan besar mengembangkan implementasinya sendiri mungkin dengan algoritma AI yang lebih adaptif terhadap kondisi cahaya rendah atau latar belakang kompleks.
Namun, perlu dicatat: belum ada konfirmasi resmi mengenai resolusi sensor, model ponsel yang akan menerimanya, atau jadwal peluncuran. Saat ini, ini masih berada dalam tahap evaluasi internal.
Tantangan Potensial: Efisiensi, Biaya, dan Adopsi
Meski menjanjikan, sensor persegi juga menghadirkan tantangan:
- Efisiensi ruang: Sensor kotak mungkin kurang optimal dalam modul kamera tipis modern.
- Biaya produksi: Desain non-standar bisa meningkatkan harga komponen.
- Kompatibilitas software: Aplikasi pihak ketiga perlu dioptimalkan agar memanfaatkan area ekstra.
Namun, jika Huawei berhasil mengintegrasikannya dengan baik seperti yang dilakukan Apple manfaatnya akan jauh mengimbangi risiko tersebut.
Kesimpulan: Inovasi Kecil yang Bisa Ubah Pengalaman Harian
Perubahan dari sensor persegi panjang ke persegi mungkin terlihat minor secara teknis. Tapi dalam praktiknya, ini adalah langkah cerdas untuk menyelesaikan masalah nyata yang selama ini diabaikan: framing kaku, potongan gambar tak disengaja, dan transisi orientasi yang membingungkan.
Jika Huawei melanjutkan rencana ini, kita mungkin akan melihat lebih banyak vendor Android mengikuti tren ini dan suatu hari nanti, pengguna akan bertanya, “Dulu kenapa kamera depan nggak dibuat begini dari awal?”
Untuk saat ini, mari tunggu konfirmasi resmi. Tapi satu hal pasti: kamera depan yang dulu dianggap “fitur sekunder” kini menjadi medan pertempuran inovasi baru di industri smartphone.

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.