Skor DxOMark Tinggi Tapi Foto Jelek? Begini Cara Baca Nilai Kamera Smartphone

Skor DxOMark Tinggi Tapi Foto Jelek? Begini Cara Baca Nilai Kamera Smartphone

Skor DxOMark Tinggi Tapi Foto Jelek? Begini Cara Baca Nilai Kamera Smartphone

Jika Anda pernah membeli smartphone berdasarkan “kamera terbaik”, kemungkinan besar Anda pernah melihat skor DxOMark angka tiga digit yang sering dijadikan tolok ukur oleh produsen, media teknologi, bahkan influencer. Di iklan, angka seperti “142” atau “153” dicetak besar, seolah menjadi jaminan bahwa kamera ponsel tersebut tak tertandingi.


Tapi pertanyaannya: apakah skor DxOMark benar-benar bisa dipercaya sebagai satu-satunya patokan kualitas kamera? Atau justru angka ini menyesatkan karena mengabaikan selera pribadi, pengalaman pengguna, dan kompleksitas dunia nyata?


Artikel ini mengupas tuntas cara kerja DxOMark, nilai gunanya, keterbatasannya, serta bagaimana Anda seharusnya menggunakannya saat memilih smartphone tanpa terjebak pada ilusi angka semata.


Apa Itu DxOMark dan Bagaimana Mereka Menilai Kamera Smartphone?

DxOMark awalnya didirikan sebagai laboratorium independen untuk menguji kualitas gambar kamera DSLR dan lensa profesional. Namun sejak era smartphone modern dimulai terutama setelah peluncuran Google Pixel pertama pada 2016 DxOMark mulai fokus pada perangkat mobile.


Metodologi pengujian mereka sangat ketat:


  • Ratusan foto dan puluhan menit video diambil dalam berbagai kondisi: siang terik, senja, malam gelap, HDR ekstrem, subjek bergerak, dan lainnya.
  • Semua pengujian dilakukan dalam mode otomatis/default, meniru pengalaman pengguna biasa.
  • Setiap aspek teknis dievaluasi: eksposur, warna, noise, tekstur, autofokus, stabilisasi, distorsi, dan rendering bokeh.

Hasilnya dibagi menjadi sub-skor:


  • Photo
  • Video
  • Zoom
  • Bokeh / Portrait

Lalu, sub-skor ini digabung menjadi skor keseluruhan (misalnya 148), yang diklaim merepresentasikan “performa pencitraan umum”.


Sejak 2020, DxOMark juga memperkenalkan konsep “trustability” yaitu seberapa konsisten kamera bekerja di berbagai skenario nyata, bukan hanya saat kondisi ideal di laboratorium.


Mengapa Skor DxOMark Masih Bernilai bagi Konsumen?

Meski dikritik, DxOMark tetap memiliki nilai objektif yang sulit ditandingi ulasan subjektif. Berikut alasannya:


1. Standarisasi yang Konsisten

Berbeda dengan YouTuber atau blogger yang mungkin menggunakan pencahayaan berbeda atau preferensi warna pribadi, DxOMark menggunakan protokol tetap di lingkungan terkontrol. Ini memungkinkan perbandingan apple-to-apple antara iPhone, Samsung Galaxy, Xiaomi, dan lainnya.


2. Analisis Mendalam, Bukan Sekadar “Foto Cantik”

DxOMark tidak hanya menilai apakah foto “terlihat bagus”. Mereka mengukur:


  • Seberapa akurat warna kulit direproduksi
  • Seberapa detail tekstur rambut atau kain tetap terjaga di low light
  • Seberapa cepat autofokus mengunci subjek bergerak
  • Seberapa minim jello effect saat merekam video

Detail teknis ini sering diabaikan dalam ulasan umum, tapi sangat penting bagi fotografer atau konten kreator.


3. Pelacakan Perkembangan Teknologi

Dengan arsip skor yang mencakup lebih dari satu dekade, DxOMark memungkinkan kita melihat kemajuan nyata dalam teknologi kamera misalnya, lompatan besar setelah hadirnya sensor besar seperti Sony IMX989 atau algoritma computational photography generasi baru.


Keterbatasan DxOMark: Mengapa Angka Bukan Segalanya

Namun, mengandalkan DxOMark secara buta bisa menyesatkan. Berikut kelemahan utamanya:


1. Tidak Mencerminkan Selera Pribadi

DxOMark mungkin memberi nilai tinggi pada kamera dengan warna netral dan detail maksimal. Tapi jika Anda lebih suka foto dengan kontras tinggi, saturasi hangat, atau efek cinematic, skor tinggi justru bisa berarti “tidak sesuai gaya Anda”.


Contoh nyata:


  • iPhone sering mendapat skor lebih rendah daripada Huawei atau Xiaomi, tapi banyak pengguna menyukai “tampilan Apple” yang natural dan konsisten.
  • Samsung cenderung menghasilkan warna cerah disukai sebagian orang, dianggap “berlebihan” oleh DxOMark.

2. Metodologi Sering Berubah

DxOMark telah mengubah sistem penilaian beberapa kali misalnya, menambahkan kategori Zoom pada 2019, lalu Bokeh pada 2021. Akibatnya, skor dari tahun berbeda tidak sepenuhnya komparabel.


Skor 130 pada 2020 ≠ Skor 130 pada 2025.


3. Dunia Nyata Lebih Rumit dari Laboratorium

Di lab, subjek diam, pencahayaan terukur, dan tidak ada angin. Tapi di dunia nyata:


  • Anak Anda berlari di taman
  • Restoran memiliki pencahayaan redup dan berwarna kuning
  • Anda harus memotret sambil berjalan

Kondisi ini sulit direplikasi dalam pengujian, sehingga skor tinggi tidak menjamin hasil memuaskan saat momen spontan terjadi.


4. Potensi Bias Komersial?

Meski DxOMark mengklaim independen, produsen membayar untuk pengujian resmi. Meski tidak ada bukti manipulasi skor, praktik ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi terutama ketika skor dirilis bersamaan dengan peluncuran produk.


Jadi, Haruskah Anda Memercayai DxOMark Saat Membeli Smartphone?

Jawaban singkat: Ya tapi jangan jadikan satu-satunya acuan.


  • Gunakan DxOMark sebagai “Peta Awal”
  • Jika dua ponsel memiliki selisih skor >15 poin, kemungkinan besar ada perbedaan nyata dalam kualitas.
  • Gunakan sample foto dan video di situs DxOMark untuk melihat hasil aktual bukan hanya angkanya.
  • Gabungkan dengan Ulasan Dunia Nyata

Cari konten kreator yang menguji kamera dalam situasi sehari-hari:


  • Low-light di jalan malam
  • Potret anak bergerak
  • Zoom digital 10x

Platform seperti YouTube, Instagram, atau forum fotografi sering memberi wawasan yang lebih relevan dengan kebutuhan Anda.


Pertimbangkan Gaya Fotografi Pribadi

Tanyakan pada diri sendiri:


  • Apakah saya sering memotret di malam hari? → Fokus pada low-light performance
  • Suka potret orang? → Perhatikan kualitas bokeh dan skin tone
  • Sering zoom? → Lihat sub-skor Zoom, bukan total skor


Kesimpulan: DxOMark adalah Alat Bukan Jawaban Mutlak

DxOMark tetap menjadi salah satu sumber paling objektif dan komprehensif untuk menilai kamera smartphone. Namun, seperti semua metrik teknis, ia tidak menggantikan pengalaman pribadi.


Angka 150 mungkin terdengar mengesankan, tapi jika hasil fotonya terlalu tajam hingga terlihat “plastik”, atau warnanya terlalu dingin untuk selera Anda, maka skor itu tidak berarti apa-apa.


Yang terpenting bukanlah “siapa yang tertinggi di DxOMark”, tapi “kamera mana yang membuat Anda ingin terus memotret?”


Di akhir hari, fotografi bukan soal angka tapi soal moments, emotions, and memories. Dan itu sesuatu yang tak bisa dinilai oleh laboratorium mana pun.

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.